WASHINGTON – Mantan Presiden AS Donald Trump secara agresif meluncurkan kampanye balas dendam politik di berbagai negara bagian Amerika Serikat sepanjang bulan ini untuk menyingkirkan lawan internal Partai Republik melalui dukungan terhadap penantang garis keras di pemilihan pendahuluan.
Penelusuran mendalam menunjukkan adanya pola sistematis di mana Trump menggunakan pengaruh elektoralnya untuk menghukum tokoh-tokoh partai yang dianggap tidak setia atau pernah menentang agendanya di masa lalu.
Strategi ini bukan sekadar persaingan politik biasa, melainkan sebuah upaya pembersihan ideologis yang berisiko mengguncang stabilitas internal Partai Republik secara permanen di tengah persiapan menuju pemilu mendatang.
Hasil dari rangkaian pemungutan suara ini akan menjadi indikator kunci apakah kendali Trump terhadap basis massa masih mutlak atau justru mulai menemui titik jenuh di tengah berbagai tekanan hukum yang sedang menyelimutinya.











