BEIJING – Presiden China Xi Jinping dilaporkan mulai kehilangan kepercayaan terhadap para jenderal pilihannya di Beijing setelah menghabiskan waktu selama 13 tahun membangun militer yang dirancang khusus untuk menandingi dominasi Amerika Serikat.
Ketidakpercayaan ini muncul di tengah upaya modernisasi besar-besaran People’s Liberation Army (PLA) yang justru didera isu loyalitas dan integritas pada struktur kepemimpinan puncaknya.
Hasil investigasi menunjukkan sebuah paradoks mendalam di mana semakin kuat persenjataan dan teknologi militer China tumbuh, justru semakin rendah tingkat keyakinan sang pemimpin terhadap kemampuan para komandan yang ia tunjuk sendiri.
Langkah pembersihan internal serta perombakan personel secara mendadak menjadi sinyal kuat adanya kekhawatiran Xi terhadap potensi pembangkangan atau kegagalan operasional di lapangan.
Ketegangan ini diduga berakar dari temuan praktik korupsi sistemik dalam pengadaan alutsista serta keraguan mendasar mengenai kesiapan tempur pasukan dalam menghadapi skenario konflik global yang semakin nyata.
Ambisi Xi untuk menjadikan China sebagai kekuatan militer nomor satu di dunia kini dibayangi oleh rapuhnya fondasi kepercayaan di dalam lingkaran elit komando tertingginya.
Dampaknya, ketidakpastian posisi para jenderal senior ini diprediksi dapat menghambat visi strategis jangka panjang Beijing dalam mengubah peta kekuatan geopolitik internasional.
Hingga saat ini, stabilitas internal militer China terus menjadi sorotan tajam para analis keamanan dunia yang memantau pergerakan kekuasaan di negeri tirai bambu tersebut.











