BANDA ACEH – Aktivis lingkungan Farwiza Farhan terus konsisten menjaga Kawasan Ekosistem Leuser (KEL) di Aceh dari ancaman ekspansi korporasi demi menyelamatkan habitat terakhir empat spesies kunci dunia di tanah rencong.
Langkah berani ini dilakukan untuk memastikan napas generasi mendatang tetap terjaga di tengah kepungan izin pembukaan lahan yang mengancam kelestarian hutan hujan tropis tersebut.
Investigasi di lapangan menunjukkan bahwa para pegiat konservasi kini harus berdiri di garda terdepan menghadapi tekanan pemerintah serta korporasi pembabat hutan yang agresif.
Meski diakui UNESCO sebagai situs warisan dunia, perjuangan Farwiza justru kerap dihantam stigma negatif sebagai ‘antek asing’ oleh pihak-pihak yang kepentingannya terganggu.











