JAKARTA – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengungkap tabir di balik ironi ketergantungan impor LPG Indonesia yang mencapai 7 juta ton per tahun di tengah melimpahnya cadangan gas nasional saat memberikan keterangan resmi di Jakarta baru-baru ini.
Temuan ini mengindikasikan adanya kegagalan struktural dalam pembangunan infrastruktur hilirisasi, di mana sumber daya gas yang ada tidak mampu dikonversi menjadi LPG akibat ketidaksiapan teknologi pengolahan di dalam negeri.
Bahlil menyoroti bahwa sebagian besar gas yang dihasilkan di Indonesia berjenis gas kering (C1 dan C2), sementara kebutuhan LPG memerlukan fraksi berat (C3 dan C4) yang produksinya sangat minim sehingga menciptakan celah impor yang terus menguras devisa negara.
Kesenjangan teknis yang berlarut-larut ini memicu tuntutan audit menyeluruh terhadap peta jalan kemandirian energi nasional, mengingat ketergantungan impor yang tinggi menjadi beban berat bagi APBN melalui subsidi energi yang tidak efisien.











