SIKKA – Di tengah peringatan Hari Pendidikan Nasional, Yustina, seorang guru honorer di Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT), masih harus berjuang bertahan hidup dengan upah sangat minim sebesar Rp150.000 per bulan yang hanya bersumber dari iuran sukarela orang tua siswa.
Investigasi di lapangan mengungkap fakta miris mengenai ketimpangan akses kesejahteraan pendidik yang memaksa sekolah bergantung sepenuhnya pada swadaya wali murid karena minimnya intervensi anggaran pemerintah.
Ketidakpastian alokasi dana daerah dituding menjadi penyebab utama Yustina hanya menerima bayaran yang bahkan tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan pokok harian selama satu bulan penuh.
Potret buram ini menjadi bukti nyata bahwa di balik seremoni pendidikan nasional, masih ada pengabdian tanpa pamrih yang dibayar dengan ketidakadilan ekonomi yang sangat kronis.











