DARVAZA – Kawah gas Darvaza yang dijuluki ‘Gerbang Neraka’ di Gurun Karakum, Turkmenistan, dilaporkan mulai meredup berdasarkan pemantauan citra satelit terbaru yang memicu kekhawatiran para ahli mengenai dampak lingkungan yang tersembunyi.
Fenomena ini menarik perhatian global karena kobaran api yang telah menyala selama lebih dari lima dekade tersebut kini menunjukkan tanda-tanda penurunan intensitas secara signifikan.
Penyelidikan terhadap perubahan drastis ini menjadi krusial untuk memahami apakah hal ini menandakan berakhirnya kebocoran gas atau justru potensi ancaman baru yang lebih berbahaya bagi atmosfer.
Data satelit menunjukkan bahwa emisi panas dari kawah tersebut terus berkurang secara bertahap dalam beberapa waktu terakhir.
Meskipun penurunan api terlihat secara visual, para ilmuwan lingkungan memperingatkan bahwa meredupnya api tidak berarti kebocoran gas metana telah berhenti sepenuhnya.
Jika gas tersebut tidak lagi terbakar, metana yang terlepas langsung ke atmosfer justru memiliki efek rumah kaca yang jauh lebih kuat dibandingkan karbon dioksida hasil pembakaran.
Pemerintah Turkmenistan sebelumnya telah berulang kali menyatakan rencana untuk menutup kawah ini demi alasan kesehatan dan optimalisasi sumber daya gas.
Namun, kurangnya transparansi mengenai data geologi di lokasi tersebut menimbulkan pertanyaan besar bagi komunitas internasional mengenai apa yang sebenarnya terjadi di bawah permukaan tanah.
Hingga saat ini, para peneliti terus memantau apakah fenomena meredupnya ‘Gerbang Neraka’ ini merupakan proses alami atau dampak dari aktivitas teknis di sekitar area tambang gas tersebut.











