YERUSALEM – Belasan pejabat tinggi Israel, termasuk tiga menteri dalam kabinet Benjamin Netanyahu, memicu ketegangan diplomatik setelah secara terbuka menyerukan umat Yahudi untuk menyerbu kompleks Masjid Al-Aqsa di Yerusalem secara beramai-ramai.
Penelusuran mendalam menunjukkan bahwa seruan provokatif ini bukan sekadar retorika agama, melainkan diduga sebagai bagian dari agenda sistematis untuk mengubah status quo di situs suci tersebut secara permanen.
Keterlibatan menteri aktif dalam aksi ini mengindikasikan adanya dukungan struktural dari lingkaran dalam pemerintahan Netanyahu yang berisiko menyulut eskalasi kekerasan besar di seluruh wilayah pendudukan.
Langkah berani para pejabat sayap kanan ini kini tengah menjadi sorotan tajam komunitas internasional karena dianggap melanggar hukum internasional dan merusak stabilitas kawasan secara luas.











