Menu

Mode Gelap

Ekonomi & Bisnis · 3 Mei 2026 04:14 WITA

Investigasi Impor LPG 7 Juta Ton: Bahlil Bongkar Borok Gas Nasional


 Menteri ESDM Bahlil Lahadalia saat menjelaskan tantangan infrastruktur gas bumi dalam upaya menekan angka impor LPG nasional. (Foto: RSS) Perbesar

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia saat menjelaskan tantangan infrastruktur gas bumi dalam upaya menekan angka impor LPG nasional. (Foto: RSS)

JAKARTA – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengungkap tabir di balik ironi ketergantungan impor LPG Indonesia yang mencapai 7 juta ton per tahun di tengah melimpahnya cadangan gas nasional saat memberikan keterangan resmi di Jakarta baru-baru ini.

Temuan ini mengindikasikan adanya kegagalan struktural dalam pembangunan infrastruktur hilirisasi, di mana sumber daya gas yang ada tidak mampu dikonversi menjadi LPG akibat ketidaksiapan teknologi pengolahan di dalam negeri.

Bahlil menyoroti bahwa sebagian besar gas yang dihasilkan di Indonesia berjenis gas kering (C1 dan C2), sementara kebutuhan LPG memerlukan fraksi berat (C3 dan C4) yang produksinya sangat minim sehingga menciptakan celah impor yang terus menguras devisa negara.

Kesenjangan teknis yang berlarut-larut ini memicu tuntutan audit menyeluruh terhadap peta jalan kemandirian energi nasional, mengingat ketergantungan impor yang tinggi menjadi beban berat bagi APBN melalui subsidi energi yang tidak efisien.

Artikel ini telah dibaca 0 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Strategi Angola Kelola Jutaan Pesanan: Bedah Efisiensi Lewat BigSeller

3 Mei 2026 - 05:12 WITA

Bahlil Jamin Harga BBM dan LPG Subsidi Tak Naik Hingga Akhir 2024

3 Mei 2026 - 05:10 WITA

Investigasi Harga Sneakers Rp 100 Ribuan di Transmart Full Day Sale 2026

3 Mei 2026 - 04:54 WITA

Jepang Diam-diam Borong Minyak Rusia di Tengah Krisis Selat Hormuz

3 Mei 2026 - 03:56 WITA

Dampak Perang Timur Tengah: Sektor Pariwisata Yordania Terpuruk

2 Mei 2026 - 23:20 WITA

Pegadaian Salurkan Bantuan di Medan: Bedah Efektivitas Program Pegadaian Peduli

2 Mei 2026 - 21:05 WITA

Trending di Ekonomi & Bisnis