BAGHDAD – Perdana Menteri terpilih Irak yang belum dikenal luas secara politik, Ali al-Zaidi, resmi ditugaskan membentuk pemerintahan koalisi baru di Baghdad di tengah eskalasi tekanan Amerika Serikat untuk meredam dominasi pengaruh Iran di wilayah tersebut.
Penunjukan figur misterius ini memicu kecurigaan mendalam mengenai kesepakatan di balik layar yang menempatkannya sebagai tameng dalam pusaran konflik kekuatan besar dunia di Timur Tengah.
Laporan lapangan mengindikasikan bahwa al-Zaidi kini terhimpit di antara misi domestik untuk menstabilkan negara dan tuntutan Washington yang mendesak pemutusan rantai ketergantungan Irak pada Teheran.
Pertarungan pengaruh ini bukan sekadar pergantian kursi kepemimpinan, melainkan bukti nyata betapa kedaulatan Irak masih menjadi medan tempur bagi kepentingan asing yang mengancam integritas pemerintahan baru nantinya.











