Menu

Mode Gelap

Internasional · 25 Apr 2026 18:13 WITA

Metode Kompos Jasad Manusia: Solusi Hijau Pengganti Kremasi


 Ilustrasi proses pengomposan jasad manusia (Natural Organic Reduction) yang mengubah sisa organik menjadi tanah subur. (Foto: RSS) Perbesar

Ilustrasi proses pengomposan jasad manusia (Natural Organic Reduction) yang mengubah sisa organik menjadi tanah subur. (Foto: RSS)

SEATTLE – Sebuah investigasi terhadap industri pemakaman modern di Seattle mengungkap tren baru pengomposan jasad manusia sebagai solusi krisis lahan dan emisi karbon yang kian mengkhawatirkan.

Metode revolusioner ini mengubah tubuh manusia menjadi satu yard kubik tanah kaya nutrisi hanya dalam kurun waktu 45 hari melalui proses reduksi organik alami.

Tim menelusuri bagaimana jasad diletakkan dalam wadah baja khusus bersama serpihan kayu, alfalfa, dan jerami untuk memicu aktivitas mikroba yang sangat intens.

Proses ini terbukti jauh lebih efisien dibandingkan kremasi konvensional yang melepaskan ratusan kilogram karbon dioksida ke atmosfer dalam sekali proses.

Hasil akhir berupa tanah tersebut dapat dikembalikan kepada keluarga untuk menanam pohon atau menghijaukan kawasan hutan sebagai bentuk penghormatan terakhir bagi bumi.

Meskipun masih menuai perdebatan etika di beberapa wilayah, teknologi hijau ini mulai diadopsi secara luas sebagai standar baru pemakaman berkelanjutan di masa depan.

Artikel ini telah dibaca 0 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Dampak Perang Iran vs AS: Jutaan Warga Kena PHK Massal dan Krisis Ekonomi

28 April 2026 - 23:33 WITA

Investigasi Kesiapan Pelayanan Jemaah Haji Indonesia di Madinah

28 April 2026 - 23:30 WITA

Investigasi Perlawanan Pemilik Hunian di Tiongkok Lawan Pengembang

28 April 2026 - 22:44 WITA

Rahasia Korea Selatan Atasi Krisis Lansia dengan Teknologi AI

28 April 2026 - 22:23 WITA

Kunjungan Raja Charles ke Washington Dibayangi Investigasi Penembakan Gedung Putih

28 April 2026 - 22:14 WITA

Investigasi Penjarahan Tentara Israel di Lebanon: Kepala Staf IDF Beri Peringatan Keras

28 April 2026 - 21:35 WITA

Trending di Internasional

Sorry. No data so far.