BEIRUT – Militer Israel diduga kuat melakukan pelanggaran serius terhadap kesepakatan gencatan senjata dengan melancarkan serangan udara di wilayah Lebanon Selatan yang mengakibatkan sembilan warga sipil tewas, termasuk dua anak-anak, pada awal pekan ini.
Serangan mematikan ini terjadi di tengah kondisi perdamaian yang masih sangat rapuh, memicu penyelidikan mendalam terkait indikasi sabotase terhadap komitmen damai yang baru saja disepakati kedua belah pihak.
Presiden Lebanon secara resmi mengecam keras tindakan tersebut dan menyebutnya sebagai pelanggaran kedaulatan nyata serta upaya provokasi yang mengancam stabilitas kawasan di tengah pengawasan internasional.
Tim investigasi di lapangan kini tengah mengumpulkan bukti-bukti terkait serangan di area pemukiman sipil tersebut guna memastikan apakah ada unsur kesengajaan dalam menargetkan non-kombatan selama periode gencatan senjata berlangsung.











